Select Page
Inspirasi Bisnis dari Adieb Iryanto, Peternak Sapi Perah dengan Omzet Rp 15 Juta per Bulan

Inspirasi Bisnis dari Adieb Iryanto, Peternak Sapi Perah dengan Omzet Rp 15 Juta per Bulan

REPUBLIKA.CO.ID, LEMBANG — Bagi sebagian kalangan, peternak sapi perah mungkin identik dengan kumuh dan kotor. Di Indonesia, tak jarang yang menilai menjadi peternak adalah profesi yang rendahan. Namun, ini tidak berlaku bagi peternak muda asal Lembang, Adieb Iryanto.

Menurut dia, peternakan di Indonesia memiliki prospek yang bagus. Hanya saja, belum banyak memperoleh pengakuan dari masyarakat ataupun pemerintah. Masyarakat baru memberikan pengakuan ketika seseorang berhasil dengan apa yang diperbuatnya. Hal inilah yang ingin dibuktikan Adieb.

Adieb baru setahun menjalani usaha peternakan sapi perah, tepatnya di Kampung Pojok Girang Desa Cikahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sebelumnya, ia adalah mahasiswa jurusan ekonomi. Ia tak memiliki latar pendidikan di bidang peternakan.

“Saya sekaligus ingin belajar juga di peternakan ini, selain karena prospeknya yang juga bagus,” tutur dia di lahan peternakannya, Selasa (12/1).

Adieb menjelaskan awal-mula ia menggeluti bisnis peternakan sapi perah. Peternakan itu dimulai ketika orang tuanya membeli lahan peternakan sapi di kampung tersebut. Luas lahannya mencapai 5.000 meter persegi, mencakup luas lahan rumput dan juga kandang-kandangnya.

Mulanya, sapi-sapi perah yang dikelola ayahnya itu kurang begitu terurus sehingga banyak yang dijual. Sehingga, saat ada peluang mendapatkan beasiswa dari Fonterra Brands Indonesia untuk belajar cara beternak sapi perah yang baik, ia pun bertekad mengikutinya. Ia berangkat langsung ke Selandia Baru untuk belajar.

Untuk melancarkan niat berbisnisnya, Adieb bergabung dengan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU)  sebagai anggota.

Saat ini, Adieb memiliki populasi sapi perah baru 13 ekor. Jumlah sapi perahannya milik sendiri baru sembilan ekor.

Adieb sebenarnya tak pernah berpikir menjadi seorang peternak di Lembang.  Sebab, ia hanya berniat untuk memanfaatkan lahan milik orang tuanya yang tak terpakai. Namun, bukan hal yang mudah untuk menggeluti bisnis ternak sapi perah ini.

Menurut dia, kesulitan yang paling besar terletak pada ketersediaan pakan. Ada tiga pakan yang dia gunakan Adieb di peternakannya, ampas singkong, ampas tahu, dan rumput. Ampas tahu ini dalam sebulan bisa sampai 120 karung yang digunakan. Harga per karungnya mencapai Rp 30 ribu.

Adieb mengatakan beternak sapi membutuhkan perawatan dan pemantauan yang intensif. Sebab, dalam sehari, pemerahan bisa dilakukan dua sampai tiga kali. Dimulai dari pukul 5.00 pagi, tengah hari, dan sorenya.

Total keuntungan dari penjualan susu, yang bisa diperolehnya dalam sebulan bisa mencapai Rp 5 juta. Dalam sehari, Adieb bisa memproduksi 17 liter susu dari satu ekor sapi perahnya.

Omzet yang biasa diterimanya dalam sebulan rata-rata mencapai Rp 15 juta. Namun, ia mengakui, 70 persennya habis untuk keperluan pakan.

Rencananya ke depan, ia ingin menghasilkan produk berupa susu fasterisasi. Selain itu, ia juga berencana membeli mesin pemerah yang diimpor dari Turki ataupun Swiss.

Ini Cara Pemerintah Tingkatkan Produksi Susu Nasional

Ini Cara Pemerintah Tingkatkan Produksi Susu Nasional

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pihaknya akan bersinergi dengan program Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari untuk meningkatkan produksi susu nasional.

Kemendag juga akan meminta BBIB Singosari untuk melaksanakan program peningkatan populasi sapi perah.

“Kami akan merumuskan acuan harga susu dan penyerapannya sehingga peternak mendapat kepastian kalau hasil produksinya terserap. Bersama dengan Mentan, kami juga akan menyusun kebutuhan yang diperlukan BPIB saat ini,” jelasnya melalui keterangan resmi kepada Kompas.com, Minggu (8/1/2017).

Sementara itu, Kepala Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Enniek Herwijanti mengungkapkan, kebutuhan semen beku untuk inseminasi buatan diperoleh dari aneka jenis sapi di seluruh Indonesia.

Adapun bibit sapi impor dibutuhkan untuk pembaharuan dan penambahan pejantan sebagai sumber sperma.

Hasil produksi semen beku produksi BPIB selama ini sebagian besar sudah dibeli oleh para peternak di Jawa Timur.

Karena itu dibutuhkan penambahan semen beku untuk mendukung program peningkatan sapi penghasil susu.

“Semen beku untuk sapi-sapi impor seperti jenis Limosin dan Simental itu 75 persen dibeli Jawa Timur. Mereka memiliki 32 persen dari populasi sapi di Indonesia,” tuturnya.

Sebelumnya, Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (ASPSI) berharap adanya perhatian pemerintah terhadap peternak sapi perah dalam negeri.

Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan nilai tukar pasar terhadap harga susu lokal yang akan dijual kepada Industri Pengolahan Susu (IPS).

Sebab, saat ini harga susu segar yang dijual kepada industri pengolahan tidak menguntungkan bagi peternak.

Ketua Umum ASPSI, Agus Warsito menjelaskan, rendahnya nilai tukar peternak disebabkan oleh struktur pasar yang tidak berkembang.

Agus menjelaskan, harga jual susu sapi kepada industri hanya Rp 4.500 per liter. Harga ini dianggap lebih murah dibanding negara lain seperti China yang seharga Rp 7.330 per liter atau Vietnam sebesar Rp 8.172 per liter.

Berdasarkan data Kemenperin, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) untuk susu olahan saat ini sebanyak 3,8 juta ton per tahun, sementara pasokan susu segar lokal hanya sekitar 798.000 ton.

Kekurangan pasokan didatangkan dari impor dalam bentuk Skim Milk Powder, Anhydrous Milk Fat, dan Butter Milk Powder dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Page 1 of 11