Select Page

BANYUMAS, KOMPAS.com – Kehidupan peternakan sapi perahnasional tengah memasuki masa senja. Ada degradasi produktivitas susu murni perah yang sangat signifikan disaat kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) terus-menerus meningkat.

Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Boediyana mengatakan, ada banyak faktor yang memengaruhi produktivitas susu segar dalam negeri. Pertama, jumlah populasi sapi perah laktasi yang kian hari kian menyusut.

Pada tahun 2011, sambung Teguh, sensus Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia memiliki sekitar 560.000 populasi sapi, termasuk di antaranya sapi perah betina dan pejantan (pedaging).

Namun pada tahun tersebut, ada gerakan pemotongan besar-besaran, dimana puluhan ribu ekor sapi dijagal untuk memenuhi kebutuhan daging nasional.

(Baca juga: Pulang ke Banyuwangi, Lulusan Al-Azhar Mesir Pilih Olah Susu Sapi)

“Hingga tahun 2013 hanya tersisa sekitar 460.000 ekor, itupun sapi campuran (perah dan pedaging). Khusus untuk sapi perah betina yang laktasi hanya tersisa 300.000 ekor saja,” kata Teguh dalam peluncuran Forterra Dairy Scholarship 2017 di Gedung Eduwisata Tegalsari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden, Banyumas, Kamis (24/8/2017).

Dari jumlah populasi tersebut, produksi susu segar nasional hanya mencapai 1.500 ton per hari atau sekitar 547.000 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan atau permintaan susu segar dalam negeri adalah 12 liter per kapita, atau sekitar 3,12 juta ton per tahun.

“Dengan kata lain, 80 persen kebutuhan susu segar dalam negeri masih impor dari berbagai negara seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Uni Eropa dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, butter milk powder, hingga finished product. Nilainya sekitar Rp 10 triliun,” ujar Teguh.

Staf Khusus Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) ini pun mengatakan, ada celah yang sangat lebar antara peternak sapi perah kecil dan peternak sapi perah besar.

Saat ini, ada sekitar 100.000 peternak sapi perah kecil yang hanya memiliki 2-4 ekor saja. Sedang sisanya dikuasai kartel peternakan sapi besar yang memiliki ribuan sapi perah produktif.

Lebarnya gap ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang harus diselesaikan lewat penetapan payung hukum.

Dari payung hukum itu, Teguh berharap, pemerintah dapat campur tangan untuk memberikan subsidi bibit unggul sebagai stimulus pendongkrak kuantitas dan kualitas susu segar dalam negeri.

“Payung hukum setara Perpres (Peraturan Presiden) ini juga dibutuhkan untuk mengatur harga susu nasional yang saat ini berkisar Rp 4000-Rp 5000. Idealnya, harga susu dapat mencapai Rp 8000, agar petani kecil dapat menutup biaya operasionalnya yang tinggi,” katanya.

 

Alih Fungsi Lahan

Direktur BBPTU-HPT Baturraden, Sugiono mengungkapkan, faktor lain yang menyebabkan peternakan semakin menyusut adalah gencarnya alih fungsi lahan untuk perumahan.

Proyek perumahan telah menggusur ruang terbuka hijau, dimana peternak biasa mencari pakan untuk sapi-sapinya. Bagaimana tidak, untuk memastikan sapi perah tetap produktif, hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan pakan dan konsentrat.

“Keterbatasan lahan untuk merumput memang menjadi permasalahan para peternak. Ironisnya, justru daerah-daerah yang menjadi sentra sapi perah seperti Baturraden ini menjadi sasaran para pengembang,” tuturnya.

Sugiono menyebut, BBPTU-HTP yang ada di Baturraden ini adalah satu-satunya lahan pembenihan sapi perah sekaligus area hijauan yang dimiliki Kementerian Pertanian.

(Baca juga: Harga Daging Menggiurkan, Peternak Sapi Perah Pilih Potong Ternaknya)

Sejak tahun 2004, pihaknya telah mengembangkan 800 ekor sapi perah, dengan produktivitas bibit pertahun sebanyak 600 ekor. Selain itu, hingga tahun 2017 BBPTU-HTP juga telah meluncurkan 11 jenis pejantan unggul sapi perah Indonesia (Indonesian dairy proven bull).

Untuk membantu peternak mengatasi masalah ketersediaan pakan, BBPTU-HTP memberikan bantuan bibit rumput-rumputan seperti Indigofera, Gajah mini (odot), Rumput BD, dan King grass.

Pelatihan penerapan teknologi fermentasi jerami juga telah diberikan kepada 25 kelompok dari 17 kabupaten di Pulau Jawa.

Beasiswa ke Selandia Baru

Salah satu perusahaan manufaktur multi-nasional Fonterra Brands Indonesia mengirimkan 16 pelaku usaha peternakan sapi perah lokal dari seluruh Indonesia untuk mengikuti pelatihan teknik peternakan sapi perah modern.

Bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, para pelaku usaha peternakan sapi ini selama hampir enam minggu kedepan akan digiring ke tiga lokasi pelatihan, yakni di BBPTU-HTP Baturraden, Balai Pelatihan Kesehatan Hewan (BPKH) Cinagara Bogor, hingga menyeberang ke Selandia Baru.

Acting Managing Director Fonterra Brands Indonesia, Mandar Namjoshi mengatakan, fokus pelatihan meliputi manajemen produksi pakan ternak dan konservasi, kualitas susu dan sistem pemerahan.

Selain itu, ada edukasi mengenai manajemen bisnis peternakan, nutrisi sapi perah, kesehatan hewan, keberlanjutan peternakan dan pengolahan limbah, pengelolaan stok pedet, serta kesehatan ternak dan reproduksi.

“Potensi pertumbuhan permintaan konsumen di Indonesia dalam 10 tahun ke depan sangat fenomenal, dan upaya kami untuk mengembangkan peternakan sapi perah lokal merupakan bagian dari komitmen untuk memenuhi permintaan itu,” katanya.

(Baca juga: Ramah Lingkungan, Kapsul Susu Tanpa Kemasan Akhirnya Tercipta)

 

Menurut Mandar, mengedukasi peternak sapi perah mengenai praktik peternakan yang terbaik merupakan langkah awal yang vital dalam meningkatkan produktivitas. Edukasi ini juga dapat sekaligus meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan industri susu secara keseluruhan.

Direktur Wilayah III Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Wisnu Wijaya Soedibjo menyambut baik program ini.

Menurut Wisnu, Selandia Baru sangat cocok untuk menjadi medan latih para pelaku usaha peternakan sapi perah lokal.

“Di sana (Selandia Baru) petani kecil saja punya 80-100 ekor sapi. Semuanya serba modern, mulai dari pemerahan sampai perawatan semuanya menggunakan teknologi modern,” katanya.

Wisnu berharap, semua peserta dapat memaksimalkan ilmu yang didapat selama pelatihan untuk mengembangkan potensi peternakan setelah kembali ke daerahnya masing-masing. “Semua peserta harus punya target, show your success,” ujarnya.

Salah satu peserta scholarship asal Pasuruan, Jawa Timur, Ahmad Hofid (24) mengatakan, tantangan yang dihadapi 80 peternak sapi perah di desanya adalah makin sempitnya lahan hijauan untuk mencari pakan.

Sebab, dari 10 ekor sapi perah, tujuh di antaranya tengah laktasi dan membutuhkan asupan pakan yang ideal. “Makin kesini makin susah mencari kebun buat merumput, kejar-kejaran sama rumah,” kata alumnus Jurusan Peternakan Universitas Islam Malang itu.

Setali tiga uang dengan yang diungkapkan Indah Wahdini (30), Petugas Penyuluh Lapangan Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo.

Sulitnya pakan di wilayahnya lebih karena alih fungsi lahan hijauan untuk pabrik industri yang terus menjamur hingga pelosok desa di Sidoarjo. Keberadaan ratusan sapi dari 25 peternak di desanya juga menimbulkan konflik dengan masyarkat sekitar akibat limbah kotoran sapi.

“Makanya tujuan saya ikut pelatihan ini untuk belajar terutama manajemen pengolahan limbah kotoran sapi, dengan populasi yang hanya ratusan, seperti apa sistem pengolahan yang paling efisien,” tutupnya.

sumber : kompas.com